7 Bahaya stres pada ibu hamil dan janin

Hamil adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan wanita, karena kehadiran anak menjadi salah satu kunci kebahagian orang tua. Ada banyak hal yang harus dipelajari oleh calon ibu selama masa kehamilan, karena dalam kondisi hamil ada banyak pantangan yang harus diperhatikan, termasuk managemen stres yang baik. Stres memang menjadi masalah tersendiri bagi wanita hamil dimana pada masa ini emosi mereka sangat labil sehingga rentan mengalami stres. Belum lagi, kekhawatiran berlebih yang dialami oleh wanita hamil juga membuat keadaan ini menjadi lebih buruk jika tidak ditangani dengan benar. Stres selama kehamilan selain dapat menyebabkan masalah jangka pendek seperti susah tidur selama hamil, ternyata juga bisa mempengaruhi janin yang ada dalam kandungan. Beberapa bahaya stres pada ibu hamil diantarnya:
Bahaya stres pada ibu hamil
image by wikimedia.org ibu hamil

1. Mempengaruhi IQ. Stres yang dialami oleh seorang ibu dalam keadaan hamil dapat mempengaruhi bayi dalam kandungan 17 minggu setelah pembuahan. Menurut penelitian terbaru Bahaya stres pada ibu hamil ini bahkan dapat mempengaruhi otak dan pengembangan. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal Endocrinology Clinical, menunjukkan bahwa tingkat stres yang tinggi pada ibu selama masa kehamilan bisa mempengaruhi fungsi otak dan perilaku dalam keturunannya. Bukti lain juga menunjukkan jika stres saat hamil pada manusia dapat mempengaruhi berkembang anak, termasuk menurunkan IQ-nya.

2. Bayi lahir prematur. Di Negara maju seperti Amerika Serikat setiap tahun terjadi bayi lahir prematur, yang itu artinya bayi lahir kurang dari 37 minggu masa kehamilan. Ada banyak alasan yang menjadi penyebab mengapa bayi lahir prematur, namun banyak peneliti percaya bahwa stres selama kehamilan lah yang menjadi salah satu faktor penting yang membuat seorang ibu berisiko tinggi mengalami persalinan prematur. Untuk itu, bagi sang calon ibu sebaiknya mendapatkan waktu untuk bersantai selama masa kehamilan, sekaligus menghindari aktivitas terlalu padat di luar rumah untuk mencegah stres.

3. Risiko keguguran. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan hubungan antara keguguran dan tingkat stres yang tinggi pada ibu hamil, terutama di awal kehamilan atau sebelum konsepsi. Reaksi tubuh terhadap stres dapat menyebabkan keguguran jika itu terjadi pada awal kehamilan. Sebuah studi pada tahun 2006 menunjukkan bahwa tingginya hormon stres kortisol, dapat mempengaruhi tingkat progesteron, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan aspek lain dari kehamilan. Jadi, Sebaiknya sang calon ibu harus mencoba menghindari stres kronis saat hamil terutama pada masa kehamilan awal.

4. Bayi lahir dengan berat badan rendah. Berat badan yang ideal saat dilahirkan biasanya menjadi indikasi awal bahwa bayi lahir dengan sehat, meskipun hal itu tidak mutlak. Ada hubungan yang sangat menarik antara stres selama kehamilan dan berkurangnya bobot bayi. Hal ini terjadi karena Hormon stres seperti epinefrin, norepinefrin dan kortisol bisa menyebabkan pembuluh darah mengerut, sehingga berpotensi menghambat aliran darah ke bayi melalui tali pusat. Dalam hal ini, janin mungkin tidak menyerap cukup nutrisi dari tubuh sang ibu. Seringkali, potensi berat badan lahir rendah diidentifikasi di dalam rahim, dan dokter Anda dapat menyarankan cara untuk mengubah perilaku yang dapat menyebabkan masalah tersebut, seperti mengurangi tingkat stres anda. Ini lah alasan kenapa sang ibu yang mengkonsumsi cukup nutrisi tetapi melahirkan dengan berat kurang.

5. Mempengaruhi emosi bayi. Baru-baru ini telah diadakan beberapa penelitian untuk mengetahui hubungan antara bahaya stres selama kehamilan pada bayi. Salah satu penelitian mengungkap jika bayi yang ibunya mengalami tingkat stres saat hamil, terutama pada trimester pertama, menunjukkan tanda-tanda lebih depresi dan mudah tersinggung. Dalam kandungan, mereka juga lebih lambat untuk membiasakan  atau lebih sulit menerima rangsangan, hal ini juga bisa menjadi indikasi penting dari IQ. Janet DiPietro seorang psikolog di Johns Hopkins University mengatakan apa yang anda lakukan selama kehamilan dapat mempengaruhi bayi anda

6. Melemahnya sistem imun. Selain langsung menyebabkan masalah selama kehamilan, hormon yang diproduksi oleh stres juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda. Stres kronis, dapat mengakibatkan berkurangnya jumlah sel-sel yang bekerja melawan infeksi virus dan bakteri. Respon stres juga dapat menyebabkan sistem saraf akan mengeluarkan zat yang bisa mengikat sel darah putih sehingga pertahanan tubuh terhdapat penyakit menjadi kurang efektif. Perlu diketahui jika dalam keadaan hamil wanita sudah menurunkan sistem kekebalan tubuh mereka, sehingga dalam keadaan stres ibu hamil akan jauh lebih rentan terhadapat penyakit.

7. Kepribadian sang bayi. Sejauh ini, kita hanya melihat mengenai bahaya stres jangka pendek seperti bayi lahir prematur atau keguguran. Namun, beberapa peneliti berpikir bahwa stres kronis selama kehamilan dapat mengakibatkan masalah yang mungkin tidak terwujud sampai di kemudian hari. Stres dapat mempengaruhi perkembangan otak bayi ketika hormon menyeberang ke plasenta. Masalah-masalah ini mungkin akan mempengaruhi emosional, perilaku atau fisik sang bayi di kemudian hari. Selain itu, stres pada ibu hamil, terutama pada trimester pertama juga dapat mengakibatkan iritasi, dan bayi menjadi lebih gelisah. Stres juga dapat menyebabkan masalah perilaku, setelah bayi lahir, anak mungkin lebih rentan terhadap berbagai macam masalah terutama yang berhubungan dengan stres. Baca juga Penyebab dan cara mengatasi susah tidur saat hamil

Informasi mengeni beberapa daftar bahaya stres bagi ibu hamil di atas bukan bermaksud untuk membuat calon ibu menjadi lebih tertekan, justru dengan adanya informasi di atas diharapkan sang ibu menjadi lebih waspada dan mengurangi tingkat stres selama masa kehamilan.
loading...